Metro Channel TV

🔴 KLIK!
📺 METRO CHANNEL TV • Berita Terkini • Nasional • Pemerintahan • Hukum & Kriminal •Iklan & Liputan • Hubungi WA 081279352944 •

KOPER, TANAH BARU, DAN KOTA YANG BELAJAR

Metrochannel
Sabtu, 03 Oktober 2026
Last Updated 2026-10-03T14:07:01Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

Oleh : Ira Ayu Melinda 

4 April 1936

Bapak pernah bilang, kemarin sore, bahwa kami akan pergi ke tanah baru.

Aku tidak tahu di mana letak tanah baru itu. Aku hanya tahu ada sebuah koper tua yang berisi beberapa helai baju, nasi, dan doa seorang Ibu.

Sepanjang perjalanan aku duduk di samping Bapak. Sesekali kupandangi koper yang diletakkan di antara kami.

Koper itu kecil.

Namun entah mengapa, rasanya seperti membawa seluruh kehidupan kami.

Aku kemudian bertanya,

“Pak, tanah barunya seperti apa?”

Bapak tersenyum.

“Nanti kau akan tahu.”

Ketika sampai, tidak ada kota ramai seperti yang kubayangkan. Yang terlihat hanya hamparan tanah, pepohonan, dan orang-orang yang datang membawa harapan masing-masing.

Hari-hari berlalu.

Tanah yang dahulu hanya berupa hamparan perlahan mulai berubah. Rumah-rumah berdiri. Jalan mulai terbentuk. Kehidupan mulai tumbuh.

Dan kemudian, sesuatu yang lebih penting mulai ditanam: pendidikan.

Anak-anak mulai mengenal sekolah dan buku. Guru datang membawa pengetahuan. Orang tua mulai berharap anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.

Tahun berganti tahun.

Tanah itu semakin hidup.

Bapak pernah bercerita, ketika masih bujang, ada sebuah lapangan yang sering digunakan anak-anak muda bermain sepak bola.

Di kawasan yang kini kukenal sebagai Tugu Pena, suasananya dahulu jauh berbeda.

“Dulu kami bermain bola di sana,” kata Bapak suatu sore.

Aku menatap Tugu Pena.

Sulit membayangkan tempat yang kini menjadi salah satu bagian dari wajah Kota Metro itu, dahulu hanyalah lapangan tempat anak-anak muda berlari mengejar bola.

Tetapi begitulah waktu.

Ia mengubah tanah menjadi kota.

Mengubah lapangan menjadi kenangan.

Dan mengubah sebuah kota sederhana menjadi tempat orang-orang datang untuk mencari ilmu.

Kini, setiap pagi, Metro dipenuhi langkah anak-anak berseragam.

Mahasiswa menuju kampus.

Guru memasuki ruang kelas.

Orang tua mengantar anak-anak mereka mengejar cita-cita.

Aku kembali teringat pada koper dalam cerita Bapak.

Dahulu, isinya hanya baju, nasi, dan doa seorang Ibu.

Kini, orang-orang datang membawa buku, ilmu, dan mimpi.

Mungkin sejak awal kota ini memang tidak hanya dibangun untuk menjadi tempat tinggal.

Kota ini juga dibangun untuk menjadi tempat belajar.

Aku kembali memandang Tugu Pena.

Waktu telah berjalan begitu jauh sejak perjalanan pertama menuju tanah baru itu.

Dan akhirnya aku mengerti.

Sebuah kota tidak menjadi kota pendidikan hanya karena sekolah dan kampus berdiri di dalamnya.

Kota pendidikan lahir dari generasi yang percaya bahwa masa depan harus diperjuangkan melalui ilmu.

Metro terus tumbuh.

Dari tanah yang dahulu dibuka dengan harapan, tumbuh sebuah kota.

Dari buku-buku yang dibaca anak-anaknya, tumbuh cita-cita.

Dan dari cita-cita itulah masa depan dibangun.

Selama masih ada anak-anak yang berjalan membawa buku dan mimpi, selama itu pula roda waktu akan terus berputar.

Dari tanah baru, Metro belajar menjadi sebuah kota.

Dari pendidikan, Metro belajar menjadi masa depan.

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl

Berita Populer

Terkini

Indomedia network

📰 INDOMEDIA NETWORK
KANTOR BERITA INDOMEDIA NETWORK • RADAR BERITA • PORTAL LAMPUNG • BERITA NUSANTARA • WARTA HUKUM • KORAN RAKYAT • LAMPUNG CHANNEL TV • •