masukkan script iklan disini
METRO – Upaya Pemerintah Kota Metro dalam membenahi tata kelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Karangrejo mendapat apresiasi dari masyarakat. Warga menilai persoalan pengelolaan sampah bukan masalah yang dapat diselesaikan secara instan, sehingga diperlukan proses bertahap dan kerja sama semua pihak.
Abdul Wahid (43), warga yang tinggal di sekitar TPA Karangrejo, saat diwawancarai media ini mengatakan, sebelumnya sistem open dumping menimbulkan sejumlah dampak yang dirasakan masyarakat, mulai dari banyaknya lalat, bau menyengat, hingga kekhawatiran terhadap pencemaran lingkungan akibat lindi dan gas metan.
“Kami mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Metro yang secara bertahap mulai menerapkan metode controlled landfill yang lebih ramah lingkungan. Pengendalian dan pengelolaan lindi juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko pencemaran tanah dan badan air,” ujar Abdul Wahid.
Menurutnya, masih adanya persoalan yang belum terselesaikan sepenuhnya merupakan hal yang perlu dipahami bersama. Pemerintah dinilai telah berupaya melakukan penanganan sesuai kemampuan dan ketersediaan anggaran.
“Kami berharap upaya ini terus dilanjutkan dan ditingkatkan secara bertahap, sehingga kondisi TPA semakin baik dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan semakin berkurang,” katanya.
Sementara itu, Yudhistira, Koordinator MATTA Institute, mengatakan bahwa langkah Pemerintah Kota Metro dalam mengurai persoalan tata kelola sampah patut diapresiasi. Menurutnya, persoalan serupa juga terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan membutuhkan waktu serta kolaborasi untuk menemukan solusi yang tepat.
“Penyelesaian persoalan ini tentu tidak sebentar. Karena itu, diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat dan seluruh pihak terkait untuk mencari solusi yang berkelanjutan,” ujar Yudhistira.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan maupun kritik tidak berkembang menjadi provokasi yang justru memperkeruh keadaan dan menimbulkan kegaduhan.
“Kalau ada persoalan yang perlu dikritisi, sampaikan secara konstruktif dan berorientasi pada solusi. Jangan sampai provokasi justru menghambat proses penyelesaian masalah,” tegasnya.
Menurut Yudhistira, kritik dan pengawasan tetap diperlukan sebagai bagian dari perbaikan, namun harus ditempatkan dalam semangat membangun. Dengan komunikasi, kolaborasi dan evaluasi yang berkelanjutan, persoalan TPA Karangrejo diharapkan dapat ditangani secara bertahap demi kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan. ( Red )
